DeJe411 pinjem alamate fahmi

Belakangan ini , kegiatan alam bebas di PMPA KOMPOS vakum, dengan alasan terbentur pada kegiatan akademik . Guna membangkitkan kembali semangat kegiatan alam bebas. PMPA KOMPOS pada tangal 30 Januari – 1 Februari 2009 mengadakan pemanjatan di tebing Pantai Selatan. Di bawah Komando ketua PMPA KOMPOS, dan pelaksana kegiatan Sie Diklat PMPA KOMPOS, kegiatan ini berlangsung di kawasan tebing kapur pantai selatan. “Tebing Siung” itulah namanya, berada di desa Ngungap Kabupaten Gunung Kidul.
Lokasi dapat dicapai dengan ± 3 jam dari Solo dengan mengendarai sepeda motor. Perjalanan yang terlalu lama dan agak membosankan, apalagi kalau disambut oleh tetesan air hujan. Melalui jalan raya Solo – Wono Sari (Gunung Kidul) jalan yang licin, kemudian naik turun, menyebabkan beban di punggung rasanya bertambah berat.
Tebing Siung merupakan tebing batuan kapur yang berbatasan dengan pantai selatan. Tebing teresbut sering sekali dipanjat oleh penggiat alam bebas sejawa bahkan sering digunakan untuk Gathering Climbing se-Asia Tenggara. Tebing Siung terdiri dari beberapa blok yaitu Blok A sampai Blok K yang dimana setiap blok memiliki karakteristik tersendiri , ada dinding yang berbatu tajam dan ada juga dinding yang halus mulus (seperti pipinya mbak Sandra Dewi) dan tingkat kesulitan yang tidak sama.
Dengan tingkat kesulitan tersebut tidak menyurutkan niat untuk memanjat tebing yang tajam dan licin. Sebagai pemanjat pemula, rekan KOMPOS melakukan pemanjatan di tebing Blok D, tebing tersebut tergolong tebing yang paling mudah untuk dipanjat bagi pemanjat pemula. Setelah pemanasan, pemanjat siap untuk melakukan pemanjatan, kermantel, figure 8, screw, snap, ranner, harness, dan chalk bag disiapkan. Seperti jargonnya pemanjat “tiga menumpu satu mencari” itulah yang selalu diingat oleh teman-teman saat melakukan pemanjatan. Bahkan dari kejauhan terlihat seperti “cicak” yang memeluk tebing batu dengan erat sekali.
Hari semakin siang, cuaca panaspun tidak dihirauakan oleh temen-temen, bahkan mereka semakin “menggila” dan semakin “ketagihan” . Akhirnya lokasi pemanjatan pindah ke blok yang lebih sulit, blok yang dipilih yaitu Blok B, tingkat kesulitan bertambah saat pemanjat memasang ranner dengan kemiringan 30o, dengan nafas yang terengah-engah dan kaki dan tangan gemetar menahan berat badan, akhirnya pemanjat berhasil melewati ranner tersebut. Dengan tidak melewatkan moment yang penting, karena sudah berhasil melewati tantangan tebing dengan kemiringan yang tidak terlalu extrim, pemanjat mempunyai niat yang tulus dan iklas untuk mengibarkan bendera kebangsaan dan kebanggaan PMPA KOMPOS tercinta.
Belum puas melakukan pemanjatan yang extrim, teman-teman melanjutkan pemanjatan di Blok A, di Blok tersebut mempunyai tebing yang memliki kemiringan lebih ekstrim dari blok B, selain itu di Blok A tersebut pemanjat bisa melihat dengan leluasa hamparan pasir dan deburan ombak pantai selatan. Seperti sudah menjadi kebiasaan , pemanjat langsung menyiapkan alat, dan segera melakukan pemanjatan. Awalnya pemanjat merasa kesulitan untuk melkaukan pemanjatan dan keseimbangan Karen atebing yang memiliki kemiringan lebih dari 30o, karena teringat jargon pemanjat dan semangat jiwa untuk mengibarkan bendera PMPA KOMPOS, pemanjatan tidak putus asa dan terus melanjutkan pemanjatan. Ranner demi ranner dilewati, sekali pemanjat melakukan pelemasan tangan, kaki dan tangan terus menumpu untuk menjaga keseimbangan, tak terasa ranner top sudah di raba oleh pemanjat. Dengan napas lega pemanjat berteriak KOOMPOOO….SSS !!!!. Kebanggaan dan kepuasan tersendiripun bisa diraih oleh pemanjat.
PMPA KOMPOS sebagai Organisasi Pecinta Alam, sebenarnya menyanyangkan tentang kondisi tebing tersebut, disetiap jalur pemanjatan banyak sekali terdapat bekas mata bor untuk memasang hanger, selain itu hanger yang sudah korosi karena erosi masih menempel di tebing. Tentunya hal tersebut sangat berlawanan sekali dengan kode etik pecinta alam. Selain itu hanger yang sudah korosi sangat berbahaya sekali bagi pemanjat pemula yang belum mengetahui seluk beluk dan karakteristik tebing tersebut.
Tetapi kami sebagai pecinta alam PMPA KOMPOS mempunyai niat baik dan tidak bermaksud untuk merusak alam, bahkan menghancurkan alam, kami hanya belajar bagaimana untuk mencintai dan melestarikan alam.
GALANG KEMANUSIAAN
JAGA BUMI DARI KERUSAKAN AKIBAT ULAH MANUSIA
6 Responses to Tak Putus Asa di Tebing Siung
mijo K-228
February 15th, 2009 at 23:27
Selamat,masih ada rekan-rekan Kompos yang melanjutkan kebiasaan yg dianggap orang kebiasaan gila.
Salam untuk adik-2 Kompos yang masih imut-@ (no K-nya udah 4 ratusan), blas ora ono sing kenal, cuma rupane isih tetep, yen cah Kompos rupane mesti njatus he he, SALAM LESTARI
Titik Kartitiani / K-353
February 16th, 2009 at 15:33
Ye..njatus kan jg diturunkan dr seniornya hahaha (btw,njatus kr mbutul bedane apa mas?)Aku suka semangat 3 menumpu 1 mencari, tp yen Azn itu pernah lebih hebat lo…1 menumpu 3 mencari..akhire dia memaki – maki dg pabrik cocacola,krn bgt satu – satunya tumpuan lepas, punggungnya diganjel kaleng cocacola, 3 m dibawahnya
arry chris
February 20th, 2009 at 21:57
Salam buat semua kompos muda. pokoke keep the fighting spirit. salam juga buat alumni kompos yang tetap peduli.
azn
February 25th, 2009 at 23:37
eh… emangnya enak jatuh? tapi untung ada kaleng yang nahan tubuh he.. he… he… kang mijo piye kabare. kirim-kirim e-mail kang. eh aku meh kawin kang…
Titik Kartitiani / K-353
March 17th, 2009 at 16:31
Hery, selamat menempuh petualangan baru. Akhirnya pertanyaan itu terjawab sudah..kita tidak jadi saling menikah hahaha
golfnero
March 25th, 2009 at 11:02
salam kenal aq juga alumni kompos kalo gak salah no K-038
bareng2 arie (ko-hok),Didik (akik),
men-temen kompos punya link ama mereka gak ??